IMAN KEPADA ALLAH SWT

Pengertian

Iman kepada Allah SWT, mencakup tiga hal. Yaitu :

  1. Keyakinan akan ada-Nya Allah SWT ( Wujud Allah ).
  2. Keyakinan akan ke-Esaan-Nya .
  3. Keyakinan bahwa Allah bersifat dengan segala sifat kesempurnaan .

Wujud Allah

Allah SWT adalah asma Tuhan yang wajib disembah. Selain Allah SWT tidak ada yang patut disembah. Demikian ajaran Islam yang tegas, yang termaktub dalam kalimat syahadat.

اشَهِدَ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ

Saya bersaksi tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah Rasul-Nya.

Beriman kepada Allah SWT adalah merupakan dasar pokok dalam ajaran Islam. Segala persoalan dalam ajaran Islam dapat diselesaikan dengan kunci Iman kepada Allah. Oleh karenanya, masalah Iman kepada Allah SWT harus mendapat perhatian sepenuhnya. Jangan sampai kita mempunyai pengertian yang salah agar tidak mempunyai keyakinan yang salah pula.

Tentang apakah Tuhan itu ada atau tidak, sejak dahulu telah menjadi perhatian dan pembicaraan orang. Ada yang sampai berkesimpulan dan berkeyakinan bahwa Tuhan itu memang benar-benar ada, ada pula yang masih ragu-ragu tentang ada atau tidaknya Tuhan, bahkan ada pula yang berkesimpulan bahwa Tuhan itu tidak ada (atheis).

Untuk membuktikan adanya Allah SWT, al-Qur’an menempuh berbagai jalan sebagai berikut :

  1. Al-Qur’an mengetuk hati manusia, untuk merasakan benar-benar bahwa keyakinan tentang adanya Allah SWT adalah pembawaan fitrahnya. Namun pembawaan fitrah itu seringkali terdesak oleh beberapa faktor sehingga untuk dapat bangkit kembali, perlu dihadapkan kepada sesuatu hal yang tidak disenangi. Dalam hal ini al-Qur’an menyatakan :

وَإِذَا مَسَّ الْإِنْسَانَ الضُّرُّ دَعَانَا لِجَنْبِهِ أَوْ قَاعِدًا أَوْ قَائِمًا فَلَمَّا كَشَفْنَا عَنْهُ ضُرَّهُ مَرَّ كَأَنْ لَمْ يَدْعُنَا إِلَى ضُرٍّ مَسَّهُ كَذَلِكَ زُيِّنَ لِلْمُسْرِفِينَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

Dan apabila manusia ditimpa bahaya dia berdo`a kepada Kami dalam keadaan berbaring, duduk atau berdiri, tetapi setelah Kami hilangkan bahaya itu daripadanya, dia (kembali) melalui (jalannya yang sesat), seolah-olah dia tidak pernah berdo`a kepada Kami untuk (menghilangkan) bahaya yang telah menimpanya. Begitulah orang-orang yang melampaui batas itu memandang baik apa yang selalu mereka kerjakan ( Yunus : 12).

  1. Al-Qur’an juga mengajak manusia untuk menggunakan akal, agar memikirkan kejadian manusia dan alam sekelilingnya. Yang semuanya membuktikan adanya Allah SWT. Merujuk firman-Nya :

هُوَ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ مِنْ نُطْفَةٍ ثُمَّ مِنْ عَلَقَةٍ ثُمَّ يُخْرِجُكُمْ طِفْلًا ثُمَّ لِتَبْلُغُوا أَشُدَّكُمْ ثُمَّ لِتَكُونُوا شُيُوخًا وَمِنْكُمْ مَنْ يُتَوَفَّى مِنْ قَبْلُ وَلِتَبْلُغُوا أَجَلًا مُسَمًّى وَلَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ

Dia-lah yang menciptakan kamu dari tanah kemudian dari setetes, air mani, sesudah itu dari segumpal darah, kemudian dilahirkannya kamu sebagai seorang anak, kemudian (kamu dibiarkan hidup) supaya kamu sampai kepada masa (dewasa), kemudian (dibiarkan kamu hidup lagi) sampai tua, di antara kamu ada yang diwafatkan sebelum itu. (Kami perbuat demikian) supaya kamu sampai kepada ajal yang ditentukan dan supaya kamu memahaminya (Al-Mukmin: 67).

Secara langsung manusia diajak merasakan dan memikirkan kehidupannya ditengah alam raya. Manusia tidak dijadikan menurut keinginan manusia sendiri. Anak keturunannya juga tidak dibuat olehnya sendiri. Bumi dan langit serta apa-apa yang ada didalamnya disiapkan oleh Allah SWT untuk kepentingan hidup manusia, itupun tidak terjadi dengan sendirinya. Itu semua ada atas kehendak Allah SWT, Tuhan Yang Maha Pencipta dan Pemelihara serta Pengatur alam raya.

  1. Banyak bukti subyektif yang dialami oleh setiap orang yang membawanya sampai kepada keyakinan adanya Tuhan.

    Misalnya I : seseorang yang nyaris ditimpa suatu malapetaka (bahaya) yang mungkin mengakibatkan kematiannya, tiba-tiba selamat. Keselamatannya dari bahaya itu menggugah hati nuraninya untuk meyakini adanya pertolongan Tuhan.

    Misalnya II : Ada seorang Ibu dari keluarga kaya raya, melahirkan seorang anak dengan selamat dan berparas rupawan. Tetapi betapa terkejutnya ketika ia melihat jari tangan kanan anaknya berjumlah enam. Sang Ibu amat gelisah. Akhirnya dicarilah dokter yang ahli untuk memotong kelebihan jari tersebut. Operasi berjalan dengan baik, sang anak sehat dan selamat. Begitu pula sang Ibu, melihat anaknya menjadi anak normal hatinya menjadi lega.

    Empat tahun kemudian, sang ibu tersebut melahirkan anaknya yang kedua. Betapa terkejutnya ia ketika melihat anaknya lahir dengan jari-jari tangan kanannya berjumlah empat. Dicarinya dokter yang dulu pernah mengoperasi anaknya yang pertama untuk diminta menambah jari yang kurang. Mendengar permintaan itu, sang dokter angkat tangan, sambil menarik nafas panjang ia berkata : “Dokter dapat memotong jari-jari yang lebih, tetapi jangan diminta untuk menambah jari-jari yang kurang”.

    Dua contoh diatas, mengajak kita untuk mau atau tidak mau, harus mengakui ada-Nya dan kehendak-Nya .

Keesaan Allah

Islam mengajarkan keesaan Allah dengan mutlak. Allah SWT adalah Tuhan Yang Maha Esa dalam wujud-Nya. Allah SWT tidak tersusun dari berbagai unsur. Islam menentang keras kepercayaan dan ajaran yang menyebutkan Tuhan berbilang, bagaimanapun bentuknya. Islam mengajarkan bahwa Allah SWT adalah Tuhan Yang Esa dalam sifat-Nya. Selain Allah SWT, tidak boleh dilekati sifat ketuhanan.

وَإِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الرَّحْمَنُ الرَّحِيمُ

Dan Tuhanmu adalah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.

قُلْ هُوَ اللَّه أَحَدٌ اللَّهُ الصَّمَد ُلَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَد ْوَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَد

Katakanlah:”Dia-lah Allah, Yang Maha Esa, Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakkan, dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia” (al Ikhlash : 1-4)

Allah SWT mengajarkan kepada umat manusia bahwa semua Rasul Allah sebelum Muhammad SAW mengajarkan Taukhid, keyakinan ke Esa-an Tuhan Yang Mutlak. Merujuk Firman-Nya :

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ إِلَّا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدُونِ

Dan Kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya: “Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku” ( Al-Ambiyaa’: 25)

Untuk mengokohkan ajaran Taukhid itu, al-Qur’an menggugah akal untuk memikirkan apa yang akan terjadi bila Tuahn itu berbilang (lebih dari satu). Merujuk Firman-Nya :

لَوْ كَانَ فِيهِمَا ءَالِهَةٌ إِلَّا اللَّهُ لَفَسَدَتَا فَسُبْحَانَ اللَّهِ رَبِّ الْعَرْشِ عَمَّا يَصِفُونَ

Sekiranya ada di langit dan di bumi tuhan-tuhan selain Allah, tentulah keduanya itu telah rusak binasa. Maka Maha Suci Allah yang mempunyai `Arsy daripada apa yang mereka sifatkan ( Al-Ambiyaa’: 22)

مَا اتَّخَذَ اللَّهُ مِنْ وَلَدٍ وَمَا كَانَ مَعَهُ مِنْ إِلَهٍ إِذًا لَذَهَبَ كُلُّ إِلَهٍ بِمَا خَلَقَ وَلَعَلَا بَعْضُهُمْ عَلَى بَعْضٍ سُبْحَانَ اللَّهِ عَمَّا يَصِفُونَ

Allah sekali-kali tidak mempunyai anak, dan sekali-kali tidak ada tuhan (yang lain) beserta-Nya, kalau ada tuhan beserta-Nya, masing-masing tuhan itu akan membawa makhluk yang diciptakannya, dan sebagian dari tuhan-tuhan itu akan mengalahkan sebagian yang lain. Maha Suci Allah dari apa yang mereka sifatkan itu, ( Al-Mukminun : 91)

وَلَا تَدْعُ مَعَ اللَّهِ إِلَهًا ءَاخَرَ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ كُلُّ شَيْءٍ هَالِكٌ إِلَّا وَجْهَهُ لَهُ الْحُكْمُ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ

Janganlah kamu sembah di samping (menyembah) Allah, tuhan apapun yang lain. Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia. Tiap-tiap sesuatu pasti binasa, kecuali Allah. BagiNyalah segala penentuan, dan hanya kepada-Nyalah kamu dikembalikan ( Al-Qashas : 88)

Antara Taukhid dan Syirik

Taukhid adalah keyakinan tentang keesaan Tuhan Yangf Mutlak. Semua rsul mengajarkan yang demikian itu, yang diterima langsung dari Allah SWT. Al-Qur’an memberikan ketentuan yang meyakinkan sehingga amat banyak ayat-ayat al-Qur’an yang mengajarkan agar umat manusia menjahui perbuatan-perbuatan yang menjerumuskan kepada kemusyrikan atau menyekutukan Allah SWT Merujuk Firman-firman-Nya :

وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَابُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan (Allah) sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar”.

Al-Qur’an mengajarkan bahwa : Syirik adalah dosa paling besar.

إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ
افْتَرَى إِثْمًا عَظِيمًا

Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.

وَقَضَى رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا

Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya.

قَالَ أَغَيْرَ اللَّهِ أَبْغِيكُمْ إِلَهًا وَهُوَ فَضَّلَكُمْ عَلَى الْعَالَمِينَ

Musa menjawab: “Patutkah aku mencari Tuhan untuk kamu yang selain daripada Allah, padahal Dialah yang telah melebihkan kamu atas segala umat.

Dari ayat-ayat tersebut diatas dapat ditarik kesimpulan, bahwa syirik adalah suatu jalan yang dapat memerosotkan nilai kemanusiaan orang yang melakukannya. Allah SWT menjadikan manusia sebagai makhluk termulia diantara makhluk Allah yang lain selama manusia menjaga kemurnian Taukhidnya kepada Allah SWT.

Keterangan al-Qur’an tentang Allah SWT

  1. Wajib bagi manusia untuk percaya akan Allah SWT sebagai Tuhannya. Merujuk pada firman-Nya :

فَآمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَالنُّورِ الَّذِي أَنْزَلْنَا وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

Maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada cahaya (Al Qur’an) yang telah Kami turunkan. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan (     At-Taghabuun : 8)

  1. Allah SWT adalah Tuhan sebenarnya, pencipta segala sesuatu dan Dia pasti ada-Nya. Merujuk pada firman-Nya :

فَذَلِكُمُ اللَّهُ رَبُّكُمُ الْحَقُّ فَمَاذَا بَعْدَ الْحَقِّ إِلَّا الضَّلَالُ فَأَنَّى تُصْرَفُونَ

Maka (Zat yang demikian) itulah Allah Tuhan kamu yang sebenarnya; maka tidak ada sesudah kebenaran itu, melainkan kesesatan. Maka bagaimanakah kamu dipalingkan (dari kebenaran)?( Yunus; 32)

  1. Allah SWT adalah yang pertama tanpa permulaan dan yang akhir tanpa penghabisan. Merujuk pada firman-Nya :

هُوَ الْأَوَّلُ وَالْآخِرُ وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

Dialah Yang Awal dan Yang Akhir, Yang Zhahir dan Yang Bathin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu ( Al-Hadiid : 3)

  1. Tidak ada yang menyamai-Nya. Merujuk pada firman-Nya :

كُلُّ مَنْ عَلَيْهَا فَانٍ وَيَبْقَى وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ

Semua yang ada di bumi itu akan binasa.
Dan tetap kekal Wajah Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan ( Ar-Rahman : 26-27)

  1. Esa tentang ketuhanan-Nya, sifat-sifat-Nya dan perbuatan-Nya. Merujuk pada firman-Nya :

قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ اللَّهُ الصَّمَدُ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ

Katakanlah: “Dia-lah Allah, Yang Maha Esa, Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakkan, dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia”( Al-Ikhlash )

  1. Yang hidup dan pasti ada-Nya. Merujuk pada firman-Nya :

اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ لَا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ لَهُ مَا فِي السَّمَوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلَّا بِمَا شَاءَ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ

Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafa`at di sisi Allah tanpa izin-Nya. Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar. ( Al-Baqarah : 255)

  1. Yang mendengar dan Yang melihat. Merujuk pada firman-Nya :

فَاطِرُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ جَعَلَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا وَمِنَ الْأَنْعَامِ أَزْوَاجًا
يَذْرَؤُكُمْ فِيهِ لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

(Dia) Pencipta langit dan bumi. Dia menjadikan bagi kamu dari jenis kamu sendiri pasangan-pasangan dan dari jenis binatang ternak pasangan-pasangan (pula), dijadikan-Nya kamu berkembang biak dengan jalan itu. Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat. ( Asy-Syuraa: 11)

  1. Berkuasa atas segala sesuatu. Merujuk pada firman-Nya :

تَبَارَكَ الَّذِي بِيَدِهِ الْمُلْكُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

Maha Suci Allah Yang di tangan-Nyalah segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu, ( Al-Mulk : 11)

  1. Maha mengetahui apa yang dikerjakan hamba-Nya. Merujuk pada firman-Nya:

هُوَ الَّذِي خَلَقَ لَكُمْ مَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا ثُمَّ اسْتَوَى إِلَى السَّمَاءِ فَسَوَّاهُنَّ سَبْعَ
سَمَوَاتٍ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia berkehendak menuju langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu. ( Al-Baqarah : 29).

  1. Yang bersabda dan mempunya sifat kesempurnaan. Merujuk pada firman-Nya:

مَا اتَّخَذَ اللَّهُ مِنْ وَلَدٍ وَمَا كَانَ مَعَهُ مِنْ إِلَهٍ إِذًا لَذَهَبَ كُلُّ إِلَهٍ بِمَا خَلَقَ وَلَعَلَا
بَعْضُهُمْ عَلَى بَعْضٍ سُبْحَانَ اللَّهِ عَمَّا يَصِفُونَ

Allah sekali-kali tidak mempunyai anak, dan sekali-kali tidak ada tuhan (yang lain) beserta-Nya, kalau ada tuhan beserta-Nya, masing-masing tuhan itu akan membawa makhluk yang diciptakannya, dan sebagian dari tuhan-tuhan itu akan mengalahkan sebagian yang lain. Maha Suci Allah dari apa yang mereka sifatkan itu, ( Al-Mu’minun : 91)

  1. Allah SWT yang mejadikan segala sesuatu dan kepada-Nya semua akan kembali. Merujuk pada firman-Nya :

وَرَبُّكَ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ وَيَخْتَارُ مَا كَانَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ سُبْحَانَ اللَّهِ وَتَعَالَى عَمَّا يُشْرِكُونَ

Dan Tuhanmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilihnya. Sekali-kali tidak ada pilihan bagi mereka. Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari apa yang mereka persekutukan (dengan Dia). ( Al-Qashas : 68)

Explore posts in the same categories: AQIDAH

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: